MENURUT CERITA SEBAGAI ANAK DAN MAMA

Gambar menyusui anak berantara di daerah terpencil.

Oleh : Yosia w magai

Jayapura Ugii.com Sebagaimana mama selalu berkorbang untuk anak terpencil.
Pada.10/08/2020

Menurut cerita saat saya umur 12 tahun tepat pada tahun 2006 dan tahun 2006 adalah tahun selesai SD pada akhir tahun Bulan November tahun 1994 adalah tahun kelahiran seorang anak laki-laki adalah anda teramat sangat sedarhana." Ujarnya"

Bapak anda adalah seorang petani yang mencari nafkah hidup dengan membuat jerat. Dan sekarang yang anda lihat ini siapa dan ternyata saya melihat perempuan petani biasa yang karakternya seorang laki laki yang bisa membuat cincang pagar, membuat rumah dll, itu Noukai yg pendidikan hanya sampai kelas dua sekolah dasar." Katanya."

Natanyel Nawipa, lahirkan di sebuah kampung yang sangat terpencil ujung kampung dari Maki Kebo yaitu (DUWAGEKOTU), bahkan tempat itu sampai sekarangpun masih termasuk wilayah terpencil. Sangat tidak ada pejabat yang mau datang ke tempat itu. Jika ada pegawai negeri, khususnya guru, yang ditempatkan di kampung tersebut, jarang sekali yang dapat bertahan lama.

Lanjut Nawipa Jika kondisi sekarang seperti yang diceritakan di atas, dapat dibayangkan keadaan pada setengah hidup  yang telah lewati ini. Saat itu, kampung kami adalah kampung yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Masyarakat di kampung kami saat itu hanya mengandalkan berjalan kaki, tanpa alas kaki pula. Saat itu, kampungku masih belum menjadi kecamatan melainkan berupa suatu desa yang sangat luas dengan penduduk yang sangat jarang dan lokasi tempat tinggal penduduk yang terpencar-pencar. Uniknya, walaupun tempat tinggal penduduk kampung kita saling berjauhan, namun pada umumnya mereka saling mengenal, sehingga, kalau ada orang baru menanyakan alamat seseorang di kampung kami, dijamin yang ditanya dapat menjawabnya dengan benar.

Lanjut, Ada dua kampung yang kuanggap sebagai tempat asalku. Kampung yang pertama adalah kampung tempat aku dilahirkan yaitu (DUWAGEKOTU). Kampung yang kedua adalah kampung tempat aku dibesarkan mulai dapat mengingat sesuatu dengan baik sampai aku menyelesaikan sekolah dasarku SD YPPGI KEBO I. "Katanya."

Tidak bisa ingat begitu sama sekali yang dapat kuingat dari kampung tempat kelahiranku. Saat aku dibawa pindah oleh orang tuaku ke kampung yang kebesaranku, masih terlalu kecil bagiku untuk dapat mengingat segalanya. Yang tidak bisa ingat apa apa kuingat. Tetangga kami itu sebenarnya adalah masih kerabat kami. Masih ada beberapa rumah yang ada di sekitar itu yang masih aku ingat juga ada bersingun.

Saya mulai dapat mengingat dengan baik setelah kami pindah ke kampung kebesaranku. Kampung yang pada umumnya penduduknya berpenghidupan dari berhuma menanam petatas di kebun dengan cara membuka lahan atau lokasi orang tua kita dan berpindah-pindah dan berkebun.

Walapun kampung itu terpencil, namun bagiku kampung itu adalah Surga Kecil, karena di tempat itulah kehidupanku dimulai, di tempat itu pula saya banyak memperoleh pelajaran hidup, yang sampai saat ini tidak pernah aku dapatkan di bangku pendidikan yang tinggi. Kampungku adalah kampung yang damai dengan udara yang segar dan air sungai yang bersih serta kehidupan yang ramah. Kami tidak perlu merasa cemas ketika bepergian ke kampung lain dengan tanpa bekal, karena kami tidak akan pernah kelaparan, sebab berhenti di manapun pasti akan ada orang yang menawari kami makan dan minum. Sebuah pola kehidupan yang mungkin jarang ditemukan di tempat lain.

Hanya sekitar dua belas tahun dari seluruh usiaku aku tinggal secara penuh di kampungku, namun tetap bagiku kampungku adalah kampung yang kucintai, kampung yang menyimpan sejuta kenangan indah dan mungkin tak akan pernah kualami kembali. Kampung yang telah mengantarku dapat mengetahui bahkan pula banyak hal dan berbagai jenis makanan alternatif di hutan ketika lapar. Kampung yang telah mengantarkanku mengetahui berbagai tanaman yang dapat dijadikan obat ketika keadaan darurat adalah Dugi/Nota. Kampung yang telah mengantarkan aku dapat berenang di sungai ketika sungai meluap karena banjir. Kampung yang telah mengantarkanku dapat memanjat pohon yang tinggi untuk mendapatkan makanan di hutan. Kampung yang telah mengajarkan aku untuk dapat bersaing dalam mengarungi kehidupan yang keras. Dari kampung itulah, walaupun dengan penuh kesedarhanaan, sy memperoleh makanan bergizi sehingga aku dapat tumbuh menjadi anak yang sehat dan ketika usia dua belas tahun serta bersekolah di kota, aku dapat menyaingi dan mengungguli anak anak kota, baik dalam ketangkasan fisik, maupun dalam ketangkasan belajar.

Jika kampung tempat saya dilahirkan merupakan sebuah tempat terpencil, maka kampung keduaku ini adalah sebuah tempat yang keterluasan, Walaupun di kampung tempat saya dilahirkan saat itu terpencil, Sekarang saya tahu, jarak dari kampung  kelahiran ke kampung kebesaranku sangat terlalu jauh, Maka dengan medan yang berat, jarak itu harus ditempuh selama berjam-jam.

Kami hanya mengandalkan kaki yang tidak beralas untuk menempuh perjalanaan dari kampung kelahiran ke kampung kebesaranku. Saat itu, karena aku masih kecil, aku berada di atas punggung Noukaiku. Sesekali aku harus terguncang karena mamaku harus menahan agar tidak jatuh ketika melewati jalan setapak yang licin, atau kadang-kadang terjal. 

Kala itu, sungguh perjalanan memang berat, tetapi aku tidak melihat diantara mereka yang mengeluh karena capek, yang ada adalah mereka bersukaria, bahkan sepanjang perjalanan mereka asyik bernyanyi nyanyi, kadang menyanyikan tembang daerah, kadang menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sesekali mereka juga bercanda, saling meledek dan kadang-kadang saling mengolok-olok dengan menyebutkan bahwa si dia pacarnya si itu si ini.

Tidak banyak rumah di sekitar itu. Yang saya masih ingat hanya ada empat rumah di sebelah selatan kami dan enam rumah di sebelah Utara kami. Terasa senang memang, lebih senang dari kampung kelahiranku. Yang ada di sekitar tempat tinggal kami hanyalah hutan dan kebun kebun milik masyarakat. Setelah kedatangan kami ke kampung itu, dari situlah kami memenuhi kebutuhan harian air kami, karena walaupun hanya berupa rembesan, Nama mata air tersebut itu yang saya masih ingat adalah #IPOUKIYAI tidak pernah sampai kering sekalipun kemarau cukup panjang.

Aku masih teringat, setiap kali ketika matahari mulai meredup dan sore menjelang petang, suara suara binatang mulai banyak terdengar, kalong-kalong dan kelelawar mulai beterbangan. Warna langit berubah menjadi jingga dan perlahan lahan meredup menjadi gelap. Sunyi, begitulah gambarannya, tapi di situlah letak kenangannya.

 Di tengah kesunyian kampung, ada beberapa anak tetangga yang saya masih ingat nama mereka adalah UGIYOKA, YOSAFAT, HISKIA, PELEKI, ABIMELEK, NUUYOKA, dan yang saya sayangkan adalah BENROBI OGOBAI MABIPAI BOKAIBAGE AKI KOYAOOKehadiran mereka sungguh menghangatkan suasana. Suara riang gurauan mereka telah mengubah keadaan sunyi menjadi sedikit ramai.

 Mereka belajar mengaji dengan penerangan berupa lampu cempor yang terbuat dari kaleng SARDINES Sebenarnya, jauh dari keadaan terang. Namun demikian mereka tetap belajar mengaji dengan riang. Mereka belajar mengaji dari selepas maghrib sampai isya dan selepas itu mereka tidak pulang ke rumah melainkan terus belajar dan menginap di surau. Sungguh pembiasaan hidup mandiri yang luar biasa. Kelak kemudian hari kebiasaan mereka itu saya ikuti juga dan sy menjadi terbiasa belajar dan tidur di surau setiap malam sehabis makan.

Saya menjadi semakin terbiasa dengan kehidupan di kampung kebesaranku. Kini saya telah memiliki teman bermain. Dia adalah anak tetangga yang rumahnya di sebelah Utara dari rumah kita. Sebagaimana anak-anak lainnya, semula saya canggung bermain dengannya. Namun karena kami sering bertemu, akhirnya kami menjadi terbiasa bermain dengannya.
 Karena teman untuk beberapa waktu aku harus mengikuti permainan yang lakukan, yaitu permainan anak misalnya bermain rumah-rumahan, masaka-masakan atau sejenisnya. Tak ada makanan yang dia miliki layaknya anak kampung.

Hidup di kampung kebesaranku (IKIYAIDA) memang tidak mudah bagiku melupakan. Dalam beberapa hal saya butuh penyesuaian. Ketika saya tidak dapat bertemu dengan teman-temanku, saya  hanya dapat bermain dengan Noukai. Sementara kakakku, karena usianya jauh di atas usiaku, dia sudah memiliki temannya sendiri. Saya sering melihatnya bermain jauh dari rumah. Kadang-kadang mereka bermain di sungai untuk mencari ikan atau sekedar untuk berenang. Karena aku masih terlalu kecil, ibuku tidak mengijinkan  ikut dengan kakakku dan kadang saya ikut tapi kakaku usir kaya binatang. 

Dalam keadaan seperti ini aku sering merasa kesepian dan pergi dengan mama
Itulah kampungku, kampung yang kelak akan mengantarkanku menjadi anak yang berani dan tangguh dalam menghadapi tantangan, anak yang kemudian hidup dan besar sampai dewasa ini tidak malu disebut sebagai orang kampung, anak yang sangat bangga menceriterakan kampung halamannya kepada teman kampus di kota. Yang bisa masih ku ingat dari Kampungku sejuta kenangan."katanya."

Pewarta : Natanyel Enagomee Nawipa
Admin : UGII KEMOTAGIDA.

Komentar

Postingan Populer