Menyampaikan dan Menafsirkan Firman Tuhan. Jemaat Zebaoth

Doc pribadi : menafsirkan  firman Tuhan.

Oleh : Anggota pemuda Jemaat  zebaoth

Jayapura- Harus merayakan hari peristiwa bagi umat manusia maka itu semua umat menjadi teladan bagi hidupnya. pada 10/05/2020

Ada kedua  metode menyampaikan firman Tuhan, 
pertama, metode tekstual yaitu penyampaian firman Tuhan berdasarkan beberapa ayat firman Tuhan (bisa satu ayat saja) dan kemudian merenungkan, menyelidiki melihat kebenaran dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya. 
Kedua, metode topikal, penyampaian 

firman Tuhan berdasarkan satu topik tertentu, menyelidiki firman Tuhan yang berhubungan dengan topik, merenungkan dan menyampaikan kebenaran dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya. 

penyampaian firman Tuhan sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penulisnya. Firman Tuhan direnungkan ayat demi ayat dan boleh juga perikop demi perikop dan pasal demi pasal.

Firman Tuhan yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah, Pdt, Bpk pilipi Esello S.th tentu saja berisi pemahamannya tentang teks, topik dan ayat-ayat Alkitab. Dengan perkataan lain, pengkhotbah menyampaikan tafsirannya tentang firman Tuhan. Menjadi pertanyaan, apakah tafsiran yang disampaikannya sesuai dengan maksud penulisnya?

Lanjut Esello kita pahami bahwa penulis Alkitab mendapat inspirasi atau pengilhaman dari Roh Kudus. Demikian pula penafsiran Alkitab terbaik dilakukan oleh orang yang didiami oleh Roh Kudus. Dalam kaitan ini, penafsir perlu berhati-hati untuk tidak dimasuki oleh roh iblis sehingga apa yang dianggapnya adalah tafsiran berdasarkan tuntunan Roh Kudus sebenarnya sudah disusupi oleh roh iblis sehingga dapat memunculkan pandangan-pandangan menyimpang bahkan ajaran-ajaran sesat. 

Untuk mencegah terjadinya hal ini, menelah firman Tuhan seperti tertulis di Alkitab, tidak dapat diabaikan (berhati-hati, jangan gampang mengatakan “Tuhan berbicara kepadaku” atau “Roh Kudus memberitahukan kepadaku”, tetapi check-recheck dengan firman Tuhan dalam Alkitab)

Dalam menafsirkan firman Tuhan, kita perlu mengingat, penulis-penulis Alkitab hidup dalam zaman, budaya, tingkat peradaban dan wilayah geografis yang berbeda-beda. Untuk mengetahui dengan baik apa yang dimaksudkan oleh Alkitab, para penafsir perlu memahami latar belakang masing-masing penulisnya,  memahami hermeneutika, yaitu prinsip-prinsip penafsiran Alkitab,  dan penerapannya dalam praktik (eksegese).

Prinsip-prinsip penafsiran Alkitab:

  1. Analisa kontekstual,  suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain. Dengan kata lain, seorang penafsir tidak boleh mengambil ayat sembarangan.
  2. Analisa kata dan tata bahasa. Memerlukan pengetahuan yang baik terhadap bahasa asli Alkitab (bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama, dan bahasa Yunani untuk Perjanjian Baru).
  3. Penafsiran sejarah dan sosial budaya pada waktu bagian Alkitab itu ditulis.
  4. Penafsiran  bahwa seluruh Alkitab adalah karya Allah, sehingga saling menjelaskan dan tidak ada bagian-bagian yang berkontradiksi. Penafsiran suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain.

Kita perlu mengingat pula, dalam Yoh. 1:14 tertulis bahwa Yesus Kristus adalah firman yang telah menjadi daging dan di sisi lain  Roh Kudus disebut juga sebagai Roh Yesus (Kis. 16:7, Fil. 1:19). Dengan demikian, penafsiran berdasarkan firman Tuhan dalam Alkitab yang diterangi oleh Roh Kudus, adalah penafsiran yang memiliki kuasa mengubah hidup baik penafsir maupun  pendengar atau pembacanya.

Siapa pun dapat membaca Alkitab, tetapi tanpa penerangan dari Roh Kudus, renungan itu sama saja dengan renungan populer yang mungkin menarik tetapi tidak mempunyai kuasa untuk mengubah hidup pendengarnya. 

Hanya Roh Kudus yang dapat “menghidupkan” isi Alkitab dan mencelikkan mata hati tentang peristiwa-peristiwa rohani terutama tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Pewarta : Eliaser kobepa

Admin : UGII KEMOTAGIDA

Komentar

Postingan Populer