MENINGKATKAN SDM SUKU MEE PEGUNUNGAN PAPUA
Doc : pribadi Rekonsilisasi kebiasan suku mee
Oleh : yosia w magai
Jayapura- Melalui kebersamaan tingkat masyarakat mereka berkembagan untuk sumber daya manusia supaya bisa hidup yang Efektif bagi masa yang cerah. Pada tanggal 24/04/2020
Membangun sebuah rumah atas dasar pondasi yang kuat agar dapat bertahan lama atau tidak mudah rubuh. Begitupun dengan manusia menjalani kehidupan berdasarkan pondasi yang kuat supaya tidak mudah terdoktrin dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang berusaha mengarahkan masyarakat pada ambang kehancuran. Pondasi yang saya maksud di sini adalah aturan hukum adat dan nilai-nilai budaya setempat. Orang yang melangkah atas dasar pondasi yang kuat mampu membedahkan mana yang baik dan yang buruk sehingga tidak mudah terpengaruh.
Oleh : yosia w magai
Jayapura- Melalui kebersamaan tingkat masyarakat mereka berkembagan untuk sumber daya manusia supaya bisa hidup yang Efektif bagi masa yang cerah. Pada tanggal 24/04/2020
Membangun sebuah rumah atas dasar pondasi yang kuat agar dapat bertahan lama atau tidak mudah rubuh. Begitupun dengan manusia menjalani kehidupan berdasarkan pondasi yang kuat supaya tidak mudah terdoktrin dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang berusaha mengarahkan masyarakat pada ambang kehancuran. Pondasi yang saya maksud di sini adalah aturan hukum adat dan nilai-nilai budaya setempat. Orang yang melangkah atas dasar pondasi yang kuat mampu membedahkan mana yang baik dan yang buruk sehingga tidak mudah terpengaruh.
Budaya adalah cara berpikir, berkarya, bergaul dan bertutur yang telah menjadi kebiasaan secara individu maupun kolektif. Dengan demikian, budaya memuat segala aktifitas fisik maupun nonfisik (moril dan materil) yang diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Setiap suku bangsa tentu memiliki budaya sangat berbeda-beda yang diwariskan secara turun temurun. Kehidupan masyarakat Papua pada umumnya dan khususnya masyarakat suku Mee pun tidak terlepas dari budaya tersebut. Semua itu, terangkum dan tercermin dalam aktivitas kehidupan sosial. Menurut aturan adat dan norma sosial, ada hal-hal tertentu yang dibatasi sehingga itu tergolong kedalam perilaku setiap individu. Perilaku juga merupakan bagian dari pada budaya tersebut, namun lebih mengarah pada melihat baik dan buruknya aktivitas seseorang. Sedangkan budaya dimengerti menyangkut hal-hal yang baik saja. dengan demikian, sesuatu yang bertentangan budaya dapat digolongkan kedalam perilaku individu.
Berdasarkan budaya suku Mee yang diwariskan secara turun-temurun, tentu memiliki metode tersendiri dalam menata kehidupan sosial, baik itu dari segi sosial, ekonomi, pendidikan dan sistem politik serta keyakinan. semua itu merupakan bagian daripada budaya itu sendiri. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut budaya suku Mee, di tinjauh dari beberapa segi kehidupan:
1. Sosial
Kehidupan masyarakat suku Mee tidak terlepas dari jiwa sosial atau rasa empati dan saling menghargai terhadap sesama manusia. Mereka (masyarakat Mee) secara turun temurun, tidak membiarkan sesama yang lain menderita, lapar, susah dan sakit. Hal ini membuat masyarakat Mee bersatu dalam menghadapi persoalan yang timbul dari dalam maupun luar. Dengan kata lain, masyarakat Mee memiliki budaya kolektifitas, empati, humanis dan religius.
Suatu idealisme yang sangat konkrit dan nyata untuk menjadi seorang manusia yang diakui, dihargai, dihormati dan dikagumi yang pertama harus diperbuat dan perlihatkan adalah kebaikan dan kebenaran bersikap. Jikalau hal pertama ini telah ditunaikan, maka hal-hal lain akan datang menyusul. Menjadi diri sendiri adalah idealisme utama leluhur, (Manfred Chrisantus Mote, 2013).Berdasarkan idealisme ini, leluhur memiliki perspektif dalam kehidupannya bahwa harus menjadi yang pertama dalam menolong dan membantu orang-orang atau sesama yang benar-benar membutuhkan bantuan uluran tangan dari orang lain.
2. Segi ekonomi
Masyarakat suku Mee pada umumnya memiliki satu istilah “Keitai/Ekowai” dalam kehidupan mereka. Keitai/ekowai merupakan suatu landasan hidup sosial yang dipegang teguh oleh masyarakat suku Mee sebagai motivasi bagi setiap orang untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan dengan bidang pekerjaan yang ditekuninya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Mata pencaharian masyarakat Mee pada umumnya adalah berkebun, beternak dan kegiatan lainnya yang digolongkan kedalam kealihan masing-masing individu.Menurut Manfred Chrisantus Mote, masyarakat suku Mee adalah masyarakat agraris yang hidup dari kegiatan bertani dan berternak. Makanan pokoknya adalah petatas (Notaa) dan keladi (Nomoo). Suatu keluarga etnis Mee, menimal memiliki dua buah lahan kebun petatas atau pun keladi. Pertimbangannya adalah jika mereka sedang mengerjakan sebuah kebun dan hasilnya belum tua, maka sementara itu mereka memanen hasil-hasil dari sebuah kebun yang lain.
Kepentingan pemenuhan kebutuhan makanan tersebut, mereka bekerja setiap hari. Dengan demikian, tidak bolah ada hari tanpa bekerja. Orang yang tidak bekerja, tidak boleh makan atau dilarang untuk makan hasil usaha orang lain, bahkan tidak diberi makan kepada orang yang tidak bekerja kebun, sebab ia tidak mau makan dan itu berarti tidak mau hidup, (Manfred Chrisantus Mote, 2013: 73). Pandangan ini memberikan dorongan bagi setiap individu agar terus-menerus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kehidupannya secara mandari.
3. Pendidikan
Nota/dugi naine gapeko, tai/bugi ekowai, ekina naine gapeko, ekina muni, naapo naine gape, naapo weidan lain-lain. Itulah beberapa kalimat yang disampaikan oleh orang tuah (Ayah) kepada anaknya yang tidak kerja sambil makan salah satu diantaranya yang disebutkan diatas. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan suatu dorongan dalam diri anak tersebut agar ia dapat kerja kebun, pelihara ternak babi, dan juga pekerjaan lainnya. Dengan kata lain, jika orang tuah menginginkan anaknya mempunyai kreatifitas dalam kehidupannya, maka harus pelit terhadap anak yang pemalas. Sedangkan anak yang rajin selalu diarahkan agar kreatifitasnya dapat ditingkatkan.
Selain dari itu, sistem pendidikan masyarakat suku Mee secara adat memiliki metode tersendiri dalam proses pembelajarannya. Metode yang saya maksudkan adalah pada saat memberikan pendidikan adat pria dan wanita dapat dipisahkan sehingga kaum wanita diajari oleh wanita yang lebih tua (mama), begitu juga kaum pria diajari oleh yang lebih tua (bapa). Materinya dimulai dari kasih sayang terhadap orang tua, norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sosial sampai dengan kemandirian hidup. Dan dapat disesuaikan dengan perkembangan umur anak.
Disisi lain, pendidikan secara lisan itu juga disampaikan dalam banyak bentuk, seperti yang dikatakan oleh (Manfred Chrisantus Mote, 2013, iv) yakni melalui cerita, dongeng, mitos, hikayat, pantun, atau dalam bentuk lagu, seperti Uga, totauga, komauga, kotekauga, bedouyouga, yametegauwa, tuupe, gawai dan gaupeuga. Lainnya dalam bentuk nasehat, wasiat dan dalam bentuk perumpamaan dan perbandingan, pepata dan teka-teki. Dengan pendidikan seperti itu, anak dapat dilatih untuk menganalisis dan menangkap makna yang terkandung didalam. Dengan kata lain, bukan hanya sebatas mendengar dan menetahui alur ceritanya saja, melainkan menganalisis apa makna di balik itu.
4. Segi politik dan Kepemimpinan
Suku Mee memiliki sistem politik beserta sistem kepemimpinan dalam kehidupan sosial. Konsep politik dan kepemimpinan tersebut dikembangkan secara alami bersama perkembangan peradaban suku Mee itu sendiri. Konsep tersebut, yakniTonawi/ pria berwibawa (big man).Big man dibagi menjadi beberapa bagian, yakni:
a. Mana wegai/dowai Tonawi
Pada dasarnya semua orang bisa berbicara dimana saja dan kapan saja, namun esensi dari berbicara adalah mengetahui dan mengerti terhadap hal apa yang dibicarakan pada konteks tersebut, dan bisa mendatangkan sesuatu yang baik. Orang yang berbicara panjang lebar tetapi tidak mengerti dan tidak menangkap inti persoalan sama saja bohong. Oleh karena itu, yang saya dimaksudkan disini adalah bahwa orang yang bisa memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Memecahkan persoalan sebesar apapun bukan hanya sekali saja, melainkan berulangkali dan dalam pembicaraannya akan menunjukkan perbedaan daripada pembicara yang lainnya secara netral.
b. Keitai/ekowai Tonawi
Masyarakat dan kerabatnya akan mengakui sebagai ekowai tonawi ketika seseorang menunjukkan imagenya dengan kerja keras dalam mengerjakan suatu bidang pekerjaan yang ditekuninya. Dan pekerjaan sebesar apapun dapat dikerjakan dalam kurung waktu singkat dan hasilnya akan berbeda dengan orang lain atau lebih unggul ketimbang yang lainnya. Dengan kata lain, ia memang unik dari yang lainnya.
c. Tonawi/Yago Mee
Mendapatkan karunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan melalui proses dan cobaan yang amat sangat lama sekitar 2-3 tahun lamanya. Dengan kata lain, untuk mendapatkan karunia harus menderita dan itulah syarat utama. Dan setelah itu ia akan mendapatkan karunia mengusir atau menyembuhkan orang sakit (Yagomee atautonawi). Penderitaan tersebut antara lain, menjadi orang gila, sakit parah, anak istri menjadi korban, dan ternak peliharaan mengalami kematian dan lain-lain. Jadi untuk mendapatkan karunia harus melalui penderitaan amat sangat menyedikan dan setelah melalui semua itu akan disebutkamuh tetai tonawi atau didi beu awetai tonawi (tonawi atau orang hebat).
d. Ekina Mege Tonawi
Ekina tonawi tahu bagaimana cara merencanakan, mengatur, memelihara dan mengembangkan dan membuahkan hasil secara teratur. Kemudian memasarkan pada saat pesta adat yang dalam bahasa Mee disebut “Yuwo”. Kemudian ada juga cara lain yang dilakukan oleh seorang ekina tonawi agar ternaknya tetap berkembang, yakni memberikan atau membagikan bibit ternak babi kepada orang lain terutama keluarga yang tidak punya atau hidup pas-pasan “iyoo” dengan tujuan agar mereka juga bisa memiliki ternak babi sehingga yang penting iyoo badii. Tonawi memberikan ternak babi kepada orang lain untuk dipiara dan hasilnya digunakan untuk kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Namun, ketika memasarkan babi induk maka hasilnya diberikan kepada pemiliknya (tonawi).
Untuk menjadi tonawibukanlah semata-mata disebut dan diakui sebagai tonawi, melainkan melalui pengorbanan dan proses yang sangat panjang. Akan ada pengakuan tonawi dari masyarakat dan kerabatnya ketika masyarakat mengetahui pengorbanan dan proses yang dilalui oleh seseorang. Ada dua cara untuk menjadi tonawi, yakni: pertama, menjadi tonawi melalui upaya dan usaha kerja kerasnya, seperti ekina mege/agiyo tonawi, ekowai tonawi, dan manaduwai tonawi (tonawi yang memiliki harta, kerja keras dan pintar diplomasi); dan yang kedua, menjadi tonawikarena karunia, seperti kamu tetai tonawi/yagome (tonawi atau orang hebat). Semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan tidak terlepas dari diyo dou (mematuhi norma). Dari situ ada sebuah penghargaan, kepercayaan dan diakui keunggulan atau bidangnya oleh publik karena memang dengan sendirinya ada dan tidak bisa dipaksakan untuk mencampuri urusan orang lain. Dengan kata lain, tidak bisa disamakan dengan orang lain, meskipun bisa tetapi hasilnya tetap akan berbeda karena “akiya iye-iye, aki gane-gane, akiya emoo-emoo”(bakat masing-masing).
Penulis : Mahasiswa papua yang sedang menempuh di uncen
Admin: UGII KEMOTAGIDA.



Komentar
Posting Komentar